Satu Gram Sabu di China Rp20 Ribu, Sampai Jakarta Rp1,5 Juta

Satu Gram Sabu di China Rp20 Ribu, Sampai Jakarta Rp1,5 Juta

85
0
SHARE

Jakarta, BeritaKoran — Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut ada perbedaan harga sabu yang besar antara Indonesia dengan China dan Iran. Hal ini membuat Indonesia jadi pasar yang terus diserbu jaringan narkotika internasional.

Kepala BNN Heru Winarko menyebut Indonesia menjadi target sindikat narkotika karena harga jual narkoba sangat tinggi.

“Harga narkoba di Indonesia luar biasa. Di China satu gram dijual seharga Rp20 ribu, di Iran Rp50 ribu. Sementara di Indonesia satu gram Rp1,5 juta. Dengan cara apapun mereka mau masukkan ke Indonesia,” kata dia, pada diskusi Forum Merdeka Barat 9, di gedung Kementerian Komunikasi dan Informasi, Jakarta, Selasa (20/3).

Dengan kata lain, harga satu gram sabu di Indonesia 75 kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan harga satu gram sabu di China.

Rilis kasus 1,375 ton sabu jaringan internasional di perairan Batam Kepri di kantor BNN, Jakarta, Selasa (20/2). Rilis kasus 1,375 ton sabu jaringan internasional di perairan Batam Kepri di kantor BNN, Jakarta, Selasa (20/2). (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Bea Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi menyebut Indonesia semakin diminati jaringan pengedar narkoba karena kebijakan negara tetangga menyulitkan para bandar merangsek.

Contohnya, penindakan keras terhadap bandar narkotika oleh Presiden Duterte di Filipina.

“Tentu mereka [sindikat narkotika] akan mengalihkan pasar ke negara kita,” imbuhnya.

Heru Winarko mengatakan BNN menaikkan target penangkapan terhadap sindikat narkotika tahun ini. Pada 2017, BNN telah meringkus 24 sindikat narkoba dari dalam dan luar negeri. Pada 2018, mereka menaikkan target menjadi 26 sindikat.

Heru mengaku tidak bisa memprediksi jumlah sindikat narkotika yang beroperasi di Indonesia. Sebab, penangkapan terhadap anggota sindikat belum tentu membuat sindikat itu bubar.

“Bisa terjadi penambahan, yang tadinya satu begitu ditangkap bisa pecah jadi empat atau lima,” tambah mantan Deputi Penyidikan KPK tersebut.

Operasi penangkapan pun dilakukan BNN di Aceh. Kali ini, petugas membongkar kepemilikan narkoba jenis sabu seberat 30 kilogram (kg) dari empat orang tersangka di Sumatera Utara.

Kepala Bagian Humas BNN Komisaris Besar Sulistiandriatmoko menjelasakan sabu itu didapat dari dua penangkapan di lokasi terpisah.

Pertama, penangkapan terhadap tersangka Khalidi dan Bahtiar, di Jalan Semayang, Binjai, Sumatera Utara, kemarin, Senin (19/3). Dari lokasi ini aparat menyita 20 kg sabu yang dikemas dalam dua karung.

“Narkoba berasal dari Malaysia dan diselundupkan melalui Aceh, selanjutnya dibawa dengan tujuan Medan, Sumut,” kata Sulis dalam keterangan tertulisnya, Selasa (20/3).

Kedua, lanjutnya, penangkapan terhadap Iwan dan Ambri alias Kumay, Selasa (20/3) pukul 08.00 WIB, di Simpang Marindal, Medan, Sumut. Dari penangkapan ini, petugas menyita 10 kg sabu yang disimpan dalam tas.

Menurut Sulis, salah satu tersangka yakni Kumay terpaksi ditembak petugas lantaran melakukan perlawanan saat ditangkap. Kumay mengalami luka di badan dan dibawa ke rumah sakit.

“Pada saat dilakukan penangkapan yang bersangkutan melawan petugas dan berupaya melarikan diri,” aku dia.

Sulis menyebut Kumay merupakan bandar narkoba yang berkali-kali berhasil menyelundupkan barang haram. Kumay juga telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) BNN.

“Saat ini masih dalam pengembangan jaringannya,” tutup Sulis.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY