Meributkan Rindu dan Rayuan dengan Pidi Baiq, Penulis Dilan 1990

Meributkan Rindu dan Rayuan dengan Pidi Baiq, Penulis Dilan 1990

97
0
SHARE

YOGYAKARTA, BeritaKoran.com – Suasana sore di Dusun Mrisi, Kasihan,Bantul, Yogyakarta, Selasa (13/2/2018) sore, tampak berbeda dari hari biasanya. Di salah satu rumah berbentuk joglo tak jauh dari pabrik gula Madukismo itu, belasan anak muda mengelilingi seorang pria paruh baya.

Mereka tengah asyik mengobrol.

Pria yang menjadi pusat kekaguman para remaja itu adalah Pidi Baiq, sang penulis novel Dilan 1990 yang sedang ramai dibicarakan setelah film dengan judul yang sama ditayangkan di bioskop. Dalam hitungan hari, filmnya sudah ditonton jutaan pasang mata.

Suasana akrab tercipta meski usia mereka terpaut puluhan tahun. Seperti sahabat, mereka berdiskusi dengan seru tentang novel dan film hingga masalah kehidupan saat ini.

Padahal, sebagian besar mereka baru pertama kali bertemu sosok Pidi yang kerap disapa ‘Ayah’ ini. Selama ini, sosok Pidi hanya ditemui melalui akun Twitter.

Pidi kebetulan mampir ke Yogyakarta selepas dirinya menghadiri sebuah acara di Solo, Jawa Tengah.

Ketika BeritaKoran.com tiba di rumah yang rencananya akan dibuat menjadi “Rumah The Panas Dalam Jogja” itu, Pidi menyapa dengan senyuman khas.

Secangkir kopi, air mineral, dan rokok menemani perbincangan, berbumbu kelakar, sepanjang petang. Obrolan ringan, tetapi terkadang menjadi berat, kembali cair karena Pidi kerap melontarkan kelakar ringan dan memberikan kebebasan kepada pada remaja itu untuk bertanya kapan saja.

“Dilan” dan kita

Tiga novel trilogi karya Pidi Baiq, yaitu Dilan 1990, Dilan 1991 dan Milea.
Tiga novel trilogi karya Pidi Baiq, yaitu Dilan 1990, Dilan 1991 dan Milea.

Ayah Pidi pun bercerita awal menulis novel Dilan. Dia mengakui bahwa dirinya diliputi penuh emosi dan pergolakan jiwa saat menulis rangkaian novel Dilan.

“Sampai ke sini (sambil kedua tangannya diangkat di sekitar leher). Anak saya pun sampai bertanya. Kamu tahu (saya) menangis tetapi tidak mengeluarkan air mata. Kalau mau pembaca gitu (menangis), kamu harus begitu,” katanya.

Dia membandingkan emosi yang dirasakannya saat menuliskan novel “Dilan” dan novel “Drunken Monster” yang merupakan kisah kontemporer.

“Dilan itu buku jelek makanya aku jual. Saya menulis buku (Dilan) karena tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Karena tujuan saya ke bumi untuk Jumatan. Sisa waktu itu menulis buku,” tuturnya.

“Kalau serial ‘Drunken’ kan temporer masa kini, masak saya kehilangan akal. Kalau novel ‘Dilan’ itu saya memiliki akal kembali. Artinya masih ada kompromi dengan norma, kalau ‘Drunken Monster’ kan banyak menulis keburukanku. Semua membekas, waktu akan membuat saya lupa, tetapi yang saya tulis yang membuat saya ingat,” ucapnya.

Pidi mengakui, banyak pro-kontra terhadap sosok Dilan yang ditulisnya. Misalnya, tentang Dilan yang berani melawan guru dan tidak menggunakan helm saat menggunakan motor.

Sambil tersenyum dengan rokok di tangan, Pidi mengatakan, setting film itu adalah tahun 1990-an. Saat itu, peraturan mengenai penggunaan helm belum ketat seperti sekarang dan praktik kekerasan masih kerap terjadi di sekolah.

“Dilan bukan sosok suci yang pasti akan diikuti. Seperti saat Dilan melawan guru, walaupun kita disadarkan oleh ketika dia ngomong ‘Saya tidak melawan guru, Saya melawan Suripto’, jangan-jangan guru juga harus introspeksi, siswa juga. Dulu guru main tampar,” tutur Pidi.

“Tetapi yang paling penting yang aku katakan, jangan mengadili masa lalu dengan keadaan di masa kini. Kok Dilan enggak pakai helm sih, masak saya harus bilang genk motor harus baik, harus pakai helm SNI. Penggunaan wajib helm baru tahun 2009,” tambahnya kemudian.

Lagipula, lanjut Pidi, belajar di dalam hidup tak melulu dari hal-hal baik. Sisi kehidupan yang buruk pun memberi pelajaran bagi setiap insan.

“Makanya ketika orang menentang perilaku Dilan ya pantaslah. Saya pun tidak menokohkan Dilan sebagai orang suci. Banyak hal buruk juga dari Dilan karena pelajaran hidup itu tidak hanya dari hal baik,” ucapnya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY