Menyandang Status Istri Kedua, Ini Pesan Nita Thalia Untuk Pria Yang Ingin...

Menyandang Status Istri Kedua, Ini Pesan Nita Thalia Untuk Pria Yang Ingin Poligami

589
0
SHARE

Beritakoran.com – Selama 17 tahun, pedangdut Nita Thalia menyandang status istri dari produser sekaligus manajernya, Nurdin Rudita. Namun meski statusnya saat ini menjadi istri kedua, diakui oleh Nita hal tersebut tidak membawa beban sama sekali. Pasalnya, sebelum memutuskan untuk menikah dengan Nita, Nurdin telah mendapat restu dari anak dan istrinya.

“Kenapa saya mau jadi istri kedua? Saya lihat kejujuran suami saya dulu saat mau meminang saya, dia bilang saya mempunyai istri dan anak dua saat itu anaknya dua. Kalau kamu mau menjalani hidup kondisinya menjadi istri kedua Insyaallah kita bisa karena kuncinya ada pada diri kita masing-masing. Insyaallah istri saya menerima, saya langsung bilang iya,” ungkap Nita Thalia, saat ditemui di kawasan Jalan Kapten Tendean, Mampang, Jakarta Selatan, Senin (8/1).

Menurut Nita, sifat terbuka sang suami saat meminangnya tersebut berhasil meluluhkan hatinya. Terlebih pernikahan antara Nita dan Nurdin disambut baik oleh kedua belah pihak keluarga. Oleh karenanya, Nita pun memiliki pesan kepada pria-pria di luar sana yang ingin berpoligami.

Kejujuran dan keterbukaan menurut Nita Talia adalah salah satu kunci keberhasilan poligami. © KapanLagi.com/Agus ApriyantoKejujuran dan keterbukaan menurut Nita Talia adalah salah satu kunci keberhasilan poligami.

“Saya mikirnya gini, kalau jadi istri pertama satu-satunya milik dia kalau kita sering dizolimi kita sering disakiti, percuma juga. Mending Jadi istri kedua kita enjoy, nggak ada yang dibohongi semua terbuka, kita menjalani hidup penuh ketenangan, kedamaian. Mungkin hikmah yg bisa diambil untuk laki-laki di sana kalau ingin menikahi atau poligami lebih baik jujur ngomong dari awal ke istri pertama,” tuturnya.

Lebih lanjut, Nita pun juga memberi saran pada pasangan suami istri di luar sana agar pintar dalam menekan ego masing-masing. Menurut Nita, suatu hubungan yang bermula ketika kedua belah pihak mampu untuk mendamaikan hati masing-masing saat dilanda masalah.

“Kembali ke diri masing-masing. Yang paling utama si suami bisa nggak sih mendamaikan si istri? Kalau suami egois, memberikan hal-hal yang nggak baik untuk istrinya, bakal nggak baik juga ke istrinya. Balik lagi ke diri kita, kalau kita pada egois saya nggak akan bisa menjalani poligami selama 17 tahun ini. Intinya sabar, ikhlas dan jujur tanpa kebohongan apa adanya,” pungkasnya seraya tersenyum.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY