Kenapa Bicara Politik Sering Bikin Panas dan Adu Jotos?

Kenapa Bicara Politik Sering Bikin Panas dan Adu Jotos?

260
0
SHARE

BeritaKoran.com Bicara politik dengan orang lain terkadang bisa berujung percekcokan bahkan perkelahian. Apa yang mereka pikirkan hingga tega saling hantam dan melukai pendukung lawan partai politiknya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sekelompok peneliti otak dan saraf di Universitas California (USC) melakukan studi pencitraan resonansi magnetik (MRI).

Hasilnya, kata ahli saraf di Institut Otak dan Kreativitas di USC, sangat relevan dalam menjelaskan respons otak seseorang saat menanggapi berita politik, palsu atau kredibel, selama pemilihan umum.

Dalam studi ini, 40 orang yang dianggap sebagai kaum liberal diperiksa melalui MRI fungsional untuk mengetahui bagaimana otak mereka merespons ketika keyakinan politis mereka dipertanyakan.

Selama penelitian, para peserta diberi delapan pernyataan politik dan pernyataan non-politik yang mereka percaya beserta dengan lima klaim yang melawannya.

Para peserta kemudian diminta memberikan nilai dari skala satu sampai tujuh untuk menunjukkan seberapa kuat kepercayaan mereka terhadap masing-masing pernyataan setelah membaca klaim yang melawannya.

Selama eksperimen ini, para ilmuwan memindai otak para partisipan.

Hasilnya, seorang pendukung politik lebih fleksibel saat menanggapi isu yang tidak berbau politik, misalnya ketika dimintai pendapat tentang topik Albert Einstein adalah fisikawan terbesar abad ke-20.

Sebaliknya, saat ditanya tentang isu politik yang menyerang keyakinan politik mereka, seperti hukum kepemilikan senjata, seorang pendukung politik berubah menjadi keras kepala dan tidak fleksibel.

Kekerasan kepala ini tergambar pada otak mereka. Orang-orang yang sulit berubah ditemukan memiliki lebih banyak aktivitas otak di bagian amigdala dan korteks insular.

Amigdala adalah bagian dalam otak berbentuk kacang di dekat pusat otak. Bagian ini berfungsi untuk meresposn sebuah ancaman atau emosi. Sementara itu, korteks insular berperan memproses perasaan dari tubuh kita dan mendeteksi rangsangan emosional.

“Ini sesuai dengan gagasan bahwa ketika kita merasa terancam, cemas atau emosional; maka kita cenderung tidak bisa mengubah pikiran kita,” kata Jonas Kaplan, asisten profesor psikologi penelitian di Institut Otak dan Kreativitas di USC.

Kaplan dan kolega juga menemukan bahwa aktivitas sistem otak di bagian Default Mode Network (DMN) atau bagian frontal meningkat di saat keyakinan politiknya diserang.

“Area frontal atau DMN ini telah dikaitkan dengan pemikiran tentang siapa kita, dan pemikiran yang mendalam membawa kita menjauh dari sini dan saat ini,” kata Kaplan.

Dari pengamatan-pengamatan di atas, Kaplan pun menyimpulkan bahwa keyakinan politik itu seperti keyakinan agama. “Keduanya adalah bagian dari diri Anda dan penting bagi lingkaran sosial tempat Anda berada,” ujarnya.

Dia pun berkata bahwa hal ini sangat wajar. “Kita harus mengakui bahwa emosi berperan dalam kognisi dan bagaimana kita memutuskan apa yang benar dan mana yang tidak benar. Hal ini karena kita manusia yang punya akal dan pikiran,” katanya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY