Rumah Batu Olak kemang

Rumah Batu Olak kemang

281
0
SHARE

BeritaKoran.com – Rumah batu Olak Kemang, begitu warga Jambi menyebutnya. Rumah berlantai dua ini menjadi bukti sejarah kesultanan di Jambi. Meski punya nilai sejarah yang sangat tinggi, kondisi Rumah batu Olak Kemang amat memprihatinkan, bahkan bisa dibilang terancam ambruk.

Berdasarkan sejumlah catatan sejarah di Museum Jambi, sebutan rumah batu disematkan karena pada saat dibangun pada abad ke-18, rumah batu tersebut merupakan bangunan satu-satunya yang terbuat dari batu atau ubin. Sementara bangunan atau rumah di sekelilingnya masih terbuat dari kayu.

Olak Kemang adalah nama daerah yang lokasinya berada di seberang Kota Jambi. Tepatnya berada di bagian utara Kota Jambi, daerah ini dipisahkan oleh Sungai Batanghari. Cukup sekitar 30 menit saja untuk menjangkau daerah Olak Kemang dari Kota Jambi. Kawasan ini dikenal sebagai daerah yang kental dengan budaya Islamnya.

Meski sudah diberi papan cagar budaya, kondisi fisik rumah batu ini terlihat memprihatinkan. Hampir sebagian besar bangunannya terlihat rusak. Keberadaannya kini dijaga dan dirawat oleh para cicit Sayyid Idrus bin Hasan Al Jufri atau biasa dikenal dengan nama Pangeran Wiro Kusumo yang tak lain adalah tokoh pendiri rumah batu Olak Kemang.

Awal 2016, salah satu pengurus rumah batu Olak Kemang, Syarifah Aulia menceritakan, pada abad ke-18, Sayyid Idrus merupakan penyebar Islam keturunan Arab di daerah seberang Kota Jambi. Bangunan ini juga menjadi tonggak berdirinya kesultanan Jambi.

“Rumah batu sengaja didirikan sebagai salah satu tempat belajar dan syiar agama kala itu,” ujar Syarifah Aulia, perempuan 60-an tahun yang juga masih keturunan Sayyid Idrus.

Menurutnya, ketika akan membangun rumah tersebut, Pangeran Wiro Kusumo mendapat banyak masukan dari seorang teman karibnya bernama Datuk Sintai. Datuk Sintai merupakan saudagar dan pedagang asal China.

Keunikan bangunan rumah batu adalah mencerminkan perpaduan banyak budaya. Mulai budaya lokal Jambi dengan ciri khas panggung. Lalu budaya Arab melalui ornamen-ornamen kaligrafi dan China dengan ciri khas ornamen berbentuk naga, awan, bunga hingga arca singa. Masuknya pemerintahan kolonial Belanda ke jambi juga berbekas di rumah batu ini. Bangunan gaya Eropa abad ke-18 menghiasi tembok bagian luar rumah batu.

Rumah Batu Olakemang ini terletak di Rumah Cagar Budaya Datuk Said Idrus Al-Djufri (Pangeran Wirokusumo) dan sampai sekarang dimilki oleh keluarga pangeran yang bersangkutan.

Berdasarkan narasumber Ibu Sari Paseha (cicit), halaman depan rumah ini dahulunya berhadapan dengan sungai Batanghari.

Design bangunan awal diatapnya terdapat gambar naga tetapi sekarang sudah tidak ada dan diganti dengan seng. Naga yang berhadapan juga terlihat di gapura depan halaman rumah.

Usia rumah ini diperkirakan lebih dari 200 tahun, tetapi tetap berdiri walaupun dari bangunan asalnya tidak ada besi penopang atau cagaknya.

Sampai kini walaupun sudah ditetapkan oleh pemerintah sebagi rumah cagar budaya tetapi belum diperbaiki dan dikelola dengan baik.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY