Selain Bunuh, Teroris ISIS di Marawi Jadikan Warga sebagai Budak

Selain Bunuh, Teroris ISIS di Marawi Jadikan Warga sebagai Budak

162
0
SHARE

Filipina – Kelompok teroris yang kini menduduki sebagian wilayah Marawi, Filipina Selatan, menjajah warga sipil di sekitar mereka.

Para teroris itu tak segan membunuh warga yang tepergok hendak melarikan diri dari kawasan tersebut.

Sementara, di lain sisi, para teroris itu pun menggunakan warga sipil sebagai pelayan dan juru masak.

Fakta ini dibeberkan otoritas Filipina kepada media, seperti dikutip kantor berita AFP, Selasa (13/6/2017).

Diperkirakan, ada sekitar 1.000 orang masih terjebak di bagian kota Marawi yang dikendalikan oleh teroris.

Kondisi itu terjadi setelah sekitar tiga minggu konflik bersenjata pecah di kawasan itu.

Pasukan teroris masih memberikan perlawanan terhadap serangan yang dilancarkan militer Filipina yang didukung pasukan Amerika Serikat.

Pengeboman terjadi tanpa henti di daerah permukiman di Marawi di mana para teroris bersembunyi.

Pihak berwenang mengatakan, diperkirakan ada 400 teroris bersenjata yang masih bertahan di sana, dan menggunakan warga sipil sebagai tameng dan juga budak.

“Berdasarkan informasi yang ada dari warga sipil yang terjebak yang telah kami selematkan, mereka digunakan sebagai pelayan untuk memasak makanan bagi mereka, untuk membawa amunisi mereka.”

Hal itu dikatakan Jurubicara militer setempat Letnan Kolonel Jo-ar Herrera kepada wartawan.

Sedikitnya, 26 warga sipil, 58 polisi dan tentara, serta 202 teroris tewas dalam konflik sejak 23 Mei 2017 tersebut.

Teroris yang tergabung dalam ISIS tersebut juga sudah merilis sebuah video melalui kantor berita propaganda mereka Amaq, Senin kemarin.

Dalam rekaman itu terlihat para teroris menembak enam warga Kristen di Marawi. Informasi ini dilansir layanan pemantauan intelijen SITE, yang berbasis di AS.

Sebuah sulih suara terdengar meminta agar eksekusi lebih lanjut dilakukan di luar kamera.

Marawi adalah kota berpenduduk mayoritas Islam di negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Katolik.

Sebagian besar warga di kota itu telah mengungsi. Sekitar 250.000 orang telah meninggalkan kota dan daerah-daerah di sekitar wilayah konflik itu.

Presiden Rodrigo Duterte mengumumkan status darurat militer di Filipina selatan, yang menjadi tempat untuk menampung 20 juta orang.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY