Wilayah Nglanggeran Gunung Kidul terpilih jadi desa terbaik Asean

Wilayah Nglanggeran Gunung Kidul terpilih jadi desa terbaik Asean

89
0
SHARE

Desa Wisata Nglanggeran, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terpilih menjadi salah satu desa terbaik di Indonesia. Atas prestasi tersebut, Desa Wisata Nglanggeran akan mendapatkan penghargaan di Asean Community Based Tourism (CBT) Award.

Sugeng, pengelola Desa Wisata Ngalenggaran, mengatakan bahwa sebelumnya Kementerian pariwisata mengirimkan tiga desa terseleksi dari apresiasi usaha masyarakat bidang pariwisata 2016. Pemilihan itu berdasar menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat atau Community Based Tourism untuk menerima award ini.

“Tiga desa itu adalah Desa wisata Dieng Kulon, Banjarnegara Jateng dengan pengelola Alif Faozi, Desa wisata Nglanggeran Gunungkidul Sugeng Handoko dan Desa wisata Panglipuran Bangli Bali dengan pengelola I Nengah Moneng,” ujar Sugeng saat dihubungi, Kamis (19/1).

Sugeng menambahkan, penghargaan diterima Desa Wisata Nglanggeran akan diserahkan di Singapura, Jumat (20/1) besok. Penilaian membuat desanya terpilih menjadi terbaik adalah karena sesuai dengan CBT standart. Di antaranya kepemilikan dan pengelolaan masyarakat. Memiliki kontribusi terhadap kesejahteraan sosial, juga menjaga dan meningkatkan lingkungan. Selain itu Mendorong partispasi interaktif antara masyarakat dan wisatawan.

“Desa Wisata Nglanggeran dilihat juga dari jasa perjalanan wisata dan pramuwisata berkualitas. Termasuk Kualitas makanan dan minuman, akomodasi dan kinerja friendly tour operator,” ucap Sugeng.

Dihubungi terpisah, Bupati Gunungkidul Badingah, mengatakan bahwa Desa Wisata Nglanggeran merupakan salah satu pengelolaan desa wisata menjadi contoh bagi pengelolaan desa wisata lainnya. Sebab, pengelolaan berbasis masyarakat bisa meningkatkan perekonomian warga setempat.

“Partisipasi masyarakat luar biasa, pemuda sampai ibu rumah tangga terlibat,” jelas Badingah.

Saat ini ada sekitar 100 home stay yang dikelola warga, sambung Badingah, selain itu juga mulai dilakukan produksi coklat, hingga pembudidayaan kambing etawa. Sistem pengelolaan ini, sesuai dengan konsep geopark. Sebab, Nglanggeran merupakan salah geosite dari 13 geosite yang ada di Gunungkidul dalam global geopark Network Gunungsewu.

“Sesuai dengan konsep Geopark, pengelolaan warisan bumi untuk kesejahteraan masyarakat. Memang di sana dikelola dengan baik,” pungkasnya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY