Menjaga Resolusi Tahun Baru agar Tak Berujung Kegagalan

Menjaga Resolusi Tahun Baru agar Tak Berujung Kegagalan

184
0
SHARE

Tahun baru telah tiba. Apa resolusi Anda tahun ini? Menurunkan berat badan, berhenti merokok, rajin berolahraga, membatasi penggunaan kartu kredit atau menekan nafsu belanja? Namun, apakah resolusi yang sama pernah Anda buat menjelang pergantian tahun baru sebelumnya?

Studi John Norcross dan rekan yang dipublikasikan di Journal of Clinical Psychology, 2002, menyebut 50 persen penduduk membuat resolusi atau tekad untuk melakukan sejumlah hal tiap tahun baru tiba. Namun, kurang dari 10 persennya dari mereka mampu menjalankannya hingga beberapa bulan.

Psikolog Universitas Carleton, Kanada, Timothy Pychyl, yang dikutip di psychologytoday.com, 30 Desember 2014, mengatakan, resolusi sebagai bentuk budaya penangguhan demi menemukan kembali diri kita. Ini upaya memotivasi kembali diri agar bisa memperbaiki perilaku.

Namun, mempertahankan resolusi itu bukan perkara mudah. Sebagian besar orang justru terjebak menjadikan resolusi itu sebagai ritual belaka. Ahli perilaku kecanduan dari Universitas Nottingham Trent, Inggris, Mark Griffiths, menambahkan, banyak orang gagal mewujudkan resolusinya karena target yang mereka tetapkan terlalu besar dan tak realistis.

“Mereka adalah korban sindrom harapan palsu (false hope syndrome),” katanya, seperti dikutip theconversation.com, 1 Januari 2016. Sindrom itu ditandai harapan tak wajar atau tak realistis dan tidak sejajar dengan pandangan diri atas perubahan perilaku yang diniatkan.

Perubahan perilaku

Agar perubahan perilaku yang diniatkan terwujud, James Prochaska dan Carlo DiClemente menyebut seseorang harus melalui tiga tahapan, yakni pra-perenungan, perenungan, dan persiapan. Setelah tiga tahap itu dilalui, tahap berikut berupa tindakan dan menjaga tindakan bisa dijalankan.

Christine Carter, staf senior Greater Good Science Center, Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat, mengatakan, di tahap pra-perenungan itu muncul niat berubah. Namun, dari hati terdalam, Anda belum ingin berubah atau tak ingin berubah.

Anda pun kerap menyangkal atau merasionalkan perilaku atau kondisi diri. Resolusi pada tahap ini kerap dibuat pada kondisi terpaksa, terutama karena tekanan lingkungan, seperti saran dokter, keluarga, pasangan atau teman.

Nyatanya, mayoritas orang yang membuat resolusi terjebak di tahap ini. Mereka tak tahu cara berubah atau kehilangan semangat akibat kegagalan resolusi tahun sebelumnya. “Jika Anda ada di tahap ini, Anda harus siap gagal lagi,” ujarnya.

Tahap berikutnya, perenungan, seseorang berpikir membuat perubahan, tetapi khawatir belum bisa mewujudkannya. Karena itu, sebelum menjalankan resolusi, seseorang harus menyadari pentingnya mengubah perilaku, paham kekurangan dan meyakinkan diri bahwa Anda bisa melakukannya.

Pada fase ketiga, setingkat sebelum perubahan perilaku dijalankan ialah tahap persiapan. Di tahap ini, seseorang benar- benar berniat berubah. Ada ketakutan, tetapi tak ada lagi penyangkalan. Di tingkat ini, seseorang menemukan cara membuat perubahan dan mengatasi berbagai soal yang membayangi.

Jika ketiga tahap itu dilalui, perubahan perilaku sudah mewujud, bisa dijalankan. Setelah tahap keempat itu dilalui, tahap berikut yang tak kalah sulit dijalani ialah menjaga perubahan perilaku itu berjalan konsisten.

Selama menjalankan dan menjaga konsistensi perilaku baik itu, kerap muncul penyimpangan. Itu sering membuat seseorang putus harapan dan hilang semangat menjalankan resolusinya.

“Penyimpangan adalah proses tak terelakkan. Karena itu, terimalah penyimpangan itu sebagai bagian dari pembelajaran dan perubahan diri,” ucap Griffitss. Meski sulit, orang yang memiliki resolusi berpeluang 10 kali lebih besar mencapai target tertentu dibandingkan yang tak membuat resolusi.

AFP PHOTO / DANIEL LEAL-OLIVASPesta kembang api mewarnai pergantian tahun di Elizabeth Tower dan the London Eye, Minggu (1/1/2017).

Mulai dari hal kecil

Lynn Bufka, psikolog di Perhimpunan Psikologi Amerika (APA) di situs apa.org mengatakan, agar resolusi berhasil, seseorang perlu membuat target kecil yang bisa dicapai sepanjang tahun, bukan dengan target besar sekaligus karena jauh lebih sulit dicapai. “Hal penting, bukan sejauh mana perubahan dibuat, tapi mengakui perubahan gaya hidup itu penting dan kita menuju ke sana,” katanya.

Selain itu, perubahan bisa dilakukan dari hal yang kita mampu lebih dahulu. Kita tak bisa mengubah banyak perilaku buruk bersamaan, tapi lakukan satu demi satu di waktu berbeda.

Cara lain adalah membicarakan resolusi itu kepada keluarga, teman, atau pasangan. Itu akan membuat seseorang mendapat dukungan untuk berubah. Bergabung dengan kelompok seminat juga bisa dilakukan. Jika perlu, minta bantuan profesional, seperti psikolog,

Namun, jika tetap gagal, jangan pernah menyalahkan diri karena kesempurnaan adalah sesuatu yang sulit dicapai. Kesalahan kecil dalam melakukan sesuatu adalah hal wajar dan normal. Hal yang dibutuhkan hanya pemulihan dan kembali ke jalur benar untuk mewujudkan resolusi itu.

Di sisi lain, resolusi sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, tak hanya menjelang pergantian tahun. Pada beberapa orang, kadang butuh sesuatu yang radikal demi mengubah perilaku.

Meski demikian, kunci agar semua perubahan perilaku yang diniatkan itu berhasil ialah mengubah pola pikir untuk tak mengagungkan masa lalu atau perilaku lama. Kebiasaan lama yang buruk bisa diubah dengan kebiasaan baru yang baik dan lebih sehat. Itu sulit, tapi bukan tak mungkin dilakukan. (MZW)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Januari 2017, di halaman 14 dengan judul “Menjaga Resolusi Tahun Baru agar Tak Berujung Kegagalan”.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY