Bagaimana Nasib 5 WNI yang Masih Disandera Abu Sayyaf?

Bagaimana Nasib 5 WNI yang Masih Disandera Abu Sayyaf?

220
0
SHARE

Pemerintah hingga kini masih terus mengupayakan pembebasan 5 WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf. Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemenlu Lalu Muhammad Iqbal menjelaskan 5 WNI ini terbagi di dua sub kelompok Abu Sayyaf, yaitu di tangan Al-Habsy dan anak buah Jim Dragon yang telah tertembak mati.

“Ada 5 yang 2 ini berada di tangan Alhabsy, yang 3 lagi masih ada di tangan anak Buah Jim Dragon yang sudah tewas. Dua orang ini merupakan sub grupnya Abu Sayayf. Operasi intelijen masih terus dilakukan baik Dari Malaysia Sabah,” Jelas Iqbal pada acara Gathering Informal dengan Jubir Kemenlu di Workroom Coffee, Jalan Cikini Raya no.9 Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2016).

Pemerintah melalui Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan HAM juga telah terjun langsung memimpin proses pembebasan WNI. Sementara Kementerian Luar Negeri RI hingga kini masih terus melakukan koordinasi dengan pihak di Filipina Selatan. Ini dikarenakan proses pembebasan sandera yang berada di tangan Al-Habsy tergantung dengan dinamika politik yang ada di Filipina Selatan.

“Di krisis center pak Menko Polhukam yang memimpin proses pembebasan itu. Untuk perdamaian di Filipina Selatan itu dipimpin oleh Jesus Beruza dan Kemenlu intens bertemu dengannya. Tapi Alhabsy ini prosesnya ini terkait dengan dinamika politik yang ada di Filiphina” tambahnya.

Dia juga menegaskan bahwa Indonesia tidak akan melakukan negosiasi terkait masalah tebusan yang diminta oleh pihak penyandera.

“Yang jelas posisi pemerintah tidak pernah terlibat negosisasi langsung dengan penyandera, dan pemerintah tidak akan membayar uang tebusan,” tegasnya.

Hingga saat ini operasi intelijen yang dilakukan telah mengetahui seperti apa perilaku penyandera. “Karena ini operasi intelijen jadi ini tidak akan disampaikan siapa yang melakukan. Kita tahu persis sandera adalah aset bagi mereka, kita sudah tahu perilaku penyandera seperti apa,” lanjutnya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY