Kisah Wanita-wanita Jepang dan ‘Pria Berhidung Putih’ di Kerkhof Pangkalpinang

Kisah Wanita-wanita Jepang dan ‘Pria Berhidung Putih’ di Kerkhof Pangkalpinang

105
0
SHARE

Bicara tentang sejarah, Pulau Bangka, erat kaitannya dengan Belanda. Pada akhir abad ke-18, Belanda menguasai pulau penghasil timah terbaik di dunia ini. Tak heran banyak bangunan peninggalan Belanda di Bangka, seperti pabrik pengolahan timah, gedung-gedung pemerintahan, taman, sekolah, rumah sakit hingga kompleks pemakaman atau kerkhof.

Kerkhof di Pangkalpinang terletak di Jl Horman Maddati, Kelurahan Melintang, Kecamatan Rangkui, tak jauh dari pusat kota. Ada sekitar 100 nisan di kompleks pemakaman tersebut. Uniknya, 10 di antaranya adalah makam orang Jepang.

Sepuluh nisan bertuliskan huruf Jepang ini menghadap ke arah barat daya dan timur laut. Sebagian besar tulisan di nisan masih dapat terbaca, namun sebagian lainnya sudah rusak.

Menurut Kadisbudparpora Kota Pangkalpinang Akhmad Elvian, sebagian besar makam rakyat Jepang yang dikebumikan di kerkhof adalah perempuan. Mereka rata-rata berasal dari daerah Jepang bagian selatan yang tergolong miskin.

Foto: Nur Khafifah/detikcomFoto: Nur Khafifah/detikcom

“Dalam catatan sejarah, banyak perempuan Jepang yang disebut Karayuki San atau pekerja seks komersial (PSK) yang masuk ke Bangka,” ujar Elvian saat berbincang di Pangkalpinang, Bangka Belitung, Rabu (28/9/2016).

Mula-mula para Karayuki San masuk ke Hindia Belanda melalui Singapura. Mereka kemudian menyebar ke Medan, Palembang, Bangka, Batavia hingga Surabaya. Kehadiran PSK impor ini menjadi favorit lelaki hidung belang yang kala itu disebut sebagai ‘pria berhidung putih’.

“Di Hindia Belanda termasuk Bangka pada tahun 1898 Masehi, bangsa Jepang disetujui sama status hukumnya dengan orang kulit putih. Ini memberi pengaruh pada status gengsi, mobilitas vertikal orang Jepang jadi naik,” terang pria yang juga ahli sejarah Bangka ini.

Foto: Nur Khafifah/detikcomFoto: Nur Khafifah/detikcom

Bangsa Jepang di Hindia Belanda semula diakui sebagai warga kelas dua bersama dengan warga keturunan Arab, Cina dan timur asing. Setelah pengakuan tersebut, status sosial mereka naik menjadi warga kelas satu bersama warga Eropa.

“Maka tidak heran kalau warga Jepang yang meninggal di Bangka waktu itu dimakamkan di kerkhof,” ujarnya.

Dari 100-an makam yang ada di kerkhof, salah satu yang tertua adalah Irene Mathilda Ehrecron yang wafat 10 Maret 1928. Sementara yang paling muda dimakamkan sekitar tahun 1950-an. Beberapa tentara Belanda korban Perang Dunia II juga ada yang dimakamkan di kompleks pemakaman tersebut.

Kini kerkhof menjadi salah satu cagar budaya Kota Pangkalpinang. Kondisi makam dibiarkan alami dan tidak dipugar. Hanya sekeliling kompleks ditambahi pagar untuk memudahkan perawatan.

“Kerkhof ini merupakan salah satu dari 21 jalur destinasi wisata sejarah di Pangkalpinang. Silakan berkunjung ke sana, buka setiap hari dan gratis,” ucap Elvian.

Foto: Nur Khafifah/detikcomFoto: Nur Khafifah/detikcom

Wisata sejarah lain di Pangkalpinang yakni rumah eks residen yang kini menjadi rumah dinas Wali Kota, Alun-alun Taman Merdeka (ATM), tugu pergerakan kemerdekaan, tamansari alias Wilhelmina Park, Europeesce Lague School (ELS) yang kini jadi SMKN 1 Pangkalpinang dan Museum Timah Indonesia.

Selain itu ada Rumah Sakit Bhakti Timah, menara air minum, kantor pos, wisma satoe, GPIB Maranatha, kelenteng Kwan Tie Miaw, pekuburan Cina Sentosa, goa Maria Yung Fo, Katedral Santo Yoseph, masjid Jamik, Hollandsche-Chineesche School (HCS) yang kini menjadi SMPN 1 Pangkalpinang, makam misionaris dan bruder, panti Wangka dan Resident Cantoor.

“Seluruh bangunan tersebut masih terjaga keasliannya. Hanya fungsinya saja yang sebagian sudah berubah,” katanya mengakhiri perbincangan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY