Melatih Keterampilan Sosial Anak

Melatih Keterampilan Sosial Anak

145
0
SHARE

Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan orang lain dalam hidupnya. Untuk itu keterampilan sosial seorang anak mesti diasah. Anak-anak butuh contoh dari orangtuanya agar ia juga pandai bersosialisasi.

Cara anak berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya sangat bergantung pada pola asuh yang diterimanya. Bila orangtua sering membatasi interaksi anak atau menyuruh anak pilih-pilih teman, maka anak akan tumbuh menjadi anak yang sulit bergaul.

“Orangtua jadi penentu, karena ayah ibunya menjadi contoh pertama anak dalam bergaul sehat,” kata Psikolog Anna Surti Ariani, dalam acara temu media bertajuk Lengkapi Nutrisinya, Jadikan Dunia Sahabatnya yang diadakan oleh SGM Eksplor di Jakarta (27/9/2016).

Orangtua bisa memberi contoh bersosialisasi dengan mengajak anak bicara dan mengungkapkan pikirannya, atau memperbanyak bertemu anak yang seusia. Pengalaman positif yang diterimanya akan membantu anak tidak takut bertemu orang baru.

Meski demikian, orangtua jangan memaksa anak bergaul. “Harus dipahami bahwa anak usia 1-3 tahun memang masih sulit berbagi dan tidak banyak bicara satu sama lain. Terkadang mereka juga takut bertemu orang baru,” kata psikolog yang akrab disapa Nina ini.

Di usia 4-6 tahun, kemampuan emosi dan sosial anak semakin berkembang sehingga mereka lebih bisa mengontrol diri dan tidak meledak-ledak. Ciri lainnya adalah anak mulai senang humor dan berimajinasi, bisa bergiliran dan bekerja sama, serta sudah paham apa yang dirasakan teman lain.

Keterampilan sosial perlu dilatih karena merupakan salah satu modal dasar dalam kehidupan. Untuk menguasai keterampilan ini, awali dengan mencukupi kebutuhan nutrisinya sehingga anak tumbuh sehat.

Anak yang sehat tidak gampang sakit dan memiliki perkembangan IQ yang baik. Dengan demikian anak lebih tahan menghadapi stres dan mampu mengatur emosinya.

Menurut Nina, anak yang punya keterampilan sosial baik akan lebih mudah diterima siapa pun, dapat menyelesaikan masalah, mampu mengasah berbagai keterampilan hidup lainnya, serta mengurangi kesulitan di sekolah.

“Pada akhirnya anak yang pandai bersosialisasi akan lebih menikmati hidup dan jadi anak bahagia,” kata psikolog dari Universitas Indonesia ini.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY