Kisah TKI yang Baru Mempunyai Buku Nikah setelah 30 Tahun Menikah

Kisah TKI yang Baru Mempunyai Buku Nikah setelah 30 Tahun Menikah

141
0
SHARE

Wajah Haris Hikma (47) tampak semringah. Ia bersama istrinya Siti Fatimah (43) hari ini berdandan ala pengantin baru. Padahal, mereka sudah menikah 30 tahun silam, tepatnya pada tahun 1986.

Senin (26/9/2016) siang, kedua pasang suami istri ini menjalani sidang itsbat nikah yang diselenggarakan Pengadilan Agama dari Jakarta, yang diinisiasi oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching, Sarawak, Malaysia.

Kepada Kompas.com, Haris menuturkan, kisah hidupnya menahkodai bahtera rumah tangga bersama istrinya itu, selama 30 tahun terakhir sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Berangkat dari kampung halaman di Bulukumba, Sulawesi Selatan pada tahun 1986, ia bersama istrinya langsung menuju Sabah, Malaysia menggunakan kapal laut berbekal paspor dan pakaian seadanya.

Mereka bekerja di salah satu perkebunan kelapa sawit di Sabah. Saat itu, keduanya masih berstatus pacaran dan belum menikah. Haris berusia 17 tahun, sedangkan Siti saat itu baru berusia 13 tahun.

Haris sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 1 SMA, sementara istrinya hanya sempat bersekolah hingga kelas 1 sekolah dasar.

“Dia (istrinya) masih sangat kecil (muda) sekali waktu saya bawa kesini,” ujar Haris kepada Kompas.com.

Haris menuturkan, selang dua bulan ia berada di Sabah, mereka kemudian melangsungkan pernikahan yang disaksikan pemuka agama kampung setempat tempat mereka tinggal. Sebagai bukti pernikahan, selembar surat keterangan mereka dapatkan.

Haris mengaku, saat ini surat tersebut entah ada di mana.

Kabar pernikahan itu kemudian mereka sampaikan kepada keluarga di kampung halaman. Seperangkat alat shalat dan sebidang tanah kebun menjadi mas kawin mereka saat itu.

Meski ia enggan menceritakan apakah pernikahan mereka saat itu tercatat di pencatatan sipil atau tidak, yang jelas anak mereka memiliki akte kelahiran yang digunakan untuk berbagai kelengkapan administrasi mulai dari sekolah hingga jenjang pekerjaan.

Pada tahun 1988, anak pertama mereka yang bernama Muhamad Ali lahir, disusul tahun 1989 anak kedua yang bernama Awaludin, dan anak ketiga pada tahun 1998. Bertahun-tahun pula ia bersama sang istri hidup dari satu perkebunan ke perkebunan lainnya.

Mereka kemudian pindah bekerja ke daerah Miri pada tahun 1998, kemudian berpindah lagi ke daerah Mukah, Sibu, Sarawak pada tahun 2003 hingga saat ini.

Anak pertamanya saat ini mengabdi kepada negara sebagai anggota TNI AD di Batalyon Infanteri Rider berpangkat Sersan Satu di Makassar. Anak keduanya bekerja di perusahaan pelayaran di Samarinda. Sementara anak ketiganya masih duduk di bangku kelas dua di salah satu pesantren yang ada di Makassar.

Anak pertama dan kedua lahir di Sabah, Malaysia, sedangkan anak ketiga lahir di Bulukumba saat keduanya pulang ke kampung halaman.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY