Liverpool Menang berkat Lini Tengah Kuat dan Buruknya Transisi Menyerang Chelsea

Liverpool Menang berkat Lini Tengah Kuat dan Buruknya Transisi Menyerang Chelsea

170
0
SHARE
Liverpool berhasil membawa pulang poin penuh dari kandang Chelsea, Stamford Bridge. Anak asuh Juergen Klopp tersebut menang dengan skor 1-2. Gol-gol dari The Reds dicetak oleh Dejan Lovren dan Jordan Henderson, sementara tuan rumah membalas lewat gol Diego Costa.

Kedua kesebelasan melakukan perubahan kecil di susunan pemain awal dibandingkan laga sebelumnya. David Luiz menjalani debut keduanya setelah kembali ke Chelsea, menggantikan posisi John Terry yang mengalami cedera. Sedangkan Liverpool tak bisa memainkan Roberto Firmino, juga karena cedera, namun sudah bisa memasang Lovren karena sudah kembali fit.

Absennya sang kapten, John Terry, ternyata berpengaruh terhadap performa Chelsea. Hal ini diamini sendiri oleh Manajer Chelsea Antonio Conte selepas pertandingan. Menurutnya, koordinasi lini belakang menjadi berantakan karena absennya Terry.

“Saya pikir kami kehilangan kordinasi dari Terry dalam beberapa situasi; tendangan bebas dan lemparan ke dalam. Bagaimanapun, Anda harus tetap memberi perhatian penuh,” ungkapnya.

Transisi Menyerang Chelsea yang Lambat

Pernyataan dari Conte tentang absennya Terry bisa jadi ada benarnya. Namun fakta di lapangan membuktikan bahwa masalah Chelsea lebih dari itu. Mereka bukan hanya punya koordinasi lini belakang yang buruk tapi juga transisi menyerang yang lambat.

Hal ini menjadi masalah karena The Blues memilih menunggu di belakang. Duet gelandang, N’Golo Kante dan Nemanja Matic, juga gagal dalam mempertahankan penguasaan bola terutama di babak pertama. Akibatnya, meski berstatus tuan rumah mereka hanya bisa bertahan dari gempuran Liverpool.

Statistik pada 15 menit pertama membuktikan hal ini. Liverpool unggul telak dalam hal penguasaan bola hingga mencapai angka 62%. Pada rentang waktu tersebut Liverpool juga telah melepaskan 5 tendangan ke arah gawang sedangkan Chelsea belum. Gawang Thibaut Courtois akhirnya jebol ketika masuk menit 17.

Chelsea bertahan dengan formasi 4-5-1, meninggalkan Diego Costa sendirian di depan. Sementara, semua gelandangnya berdiri terlalu dalam, sehingga menciptakan jarak yang terlalu jauh dengan sang penyerang. Akibatnya bisa dengan mudah ditebak, Chelsea selalu gagal dalam melakukan serangan balik sehingga terus menerus ditekan oleh Liverpool.

Hanya mengandalkan Costa sendiri di depan juga menandakan bahwa Chelsea tidak melakukan tekanan berarti. Liverpool kemudian bisa dengan santai membangun serangan dari belakang dengan aman sepanjang babak pertama.

Tempo permainan yang diperagakan oleh Chelsea juga berlangsung lambat. Sehingga ketika Chelsea dalam kondisi menguasai bola pun, para pemain Liverpool punya waktu yang cukup untuk menyiapkan pertahanannya.

Mengisolir Lini Tengah

Meski Klopp memainkan Daniel Sturridge, namun Liverpool sebenarnya bermain tanpa striker murni. Pemain timnas Inggris tersebut lebih banyak berperan menjadi pemain yang membuka ruang ketimbang menjadi target di depan. Pergerakannya membantu para gelandang masuk dari lini kedua dan menciptakan peluang.

Posisi Sturridge ini juga membuat lini tengah Liverpool bisa dominan. Trio lini tengah Chelsea yaitu Kante, Matic, dan Oscar menjadi terisolasi. Dua sayapnya Philippe Coutinho dan Sadio Mane juga berada di posisi yang tak terlalu lebar. Kondisi yang membuat pertarungan di tengah menjadi tak imbang karena bisa 6 vs 3 orang.

Lima gelandang di belakangnya juga bermain cair, bisa bertukar posisi dengan cepat dan mudah. Sehingga meskipun terkesan menumpuk tadi, aliran bola tetap berjalan dengan lancar. Bahkan Liverpool bisa melakukan umpan-umpan 1-2 di area sepertiga akhir.

Chelsea kemudian dipaksa mengalirkan bola ke sayap. Tapi ketiadaan bantuan dari rekan lainnya membuat Eden Hazard dan Willian masih juga kesulitan untuk masuk ke pertahanan Liverpool. Bahkan tim tamu mampu menggandakan kedudukan pada menit 36.

Kegagalan Memanfaatkan Momentum

Memasuki babak kedua, ketika kedudukan sudah 0-2 untuk Liverpool, Chelsea sebenarnya punya peluang membalas. Selepas turun minum anak asuh Juergen Klopp menurunkan intensitas serangan.

Garis pertahanan tidak lagi tinggi dan meniadakan tekanan oleh para pemain depannya. Akibatnya Chelsea mulai bisa menguasai bola. Tapi ternyata kesempatan ini tidak digunakan oleh Conte. Tempo permainan masih berjalan lambat dan membuat lini kedua tak maksimal dalam membantu serangan.

Apalagi saat memasuki menit 57, Klopp terpaksa menarik Sturridge untuk digantikan Divock Origi karena mengalami cedera. Pergantian ini menyebabkan kemampuan Liverpool di sepertiga akhir berkurang. Pergerakan yang cair pada babak pertama tak lagi terlihat karena Origi terlalu statis sebagai poros penyerangan.

Benar saja, empat menit berselang Diego Costa mampu membalas akibat kelengahan lini belakang Liverpool. Penyerang asal Spanyol tersebut tak terkawal di kotak penalti ketika menerima umpan pendek dari Nemanja Matic.

Bukannya melakukan pergantian taktik dengan memasukkan pemain lain, Conte tetap saja bermain seperti sebelumnya. Lagi-lagi momentum tersebut tidak dimanfaatkan oleh Conte. Padahal di bangku cadangan masih ada nama-nama seperti Pedro, Victor Moses, Fabregas, hingga Michy Batshuayi. Tiga nama pertama memang akhirnya dimasukan tapi baru pada menit 84.

Enam menit untuk menyamakan apalagi membalikkan kedudukan tentu saja bukan waktu yang panjang. Apalagi Liverpool sudah mulai konsentrasi ke pertahanan dan tidak melakukan banyak tekanan ke depan.

Fakta lain yang perlu diperhatikan adalah The Blues bermain di hadapan pendukungnya sendiri semalam. Sehingga harusnya mereka yang menekan lawan lebih banyak, bukannya bermain menunggu, termasuk dalam hal pergantian pemain.

Kesimpulan

Liverpool layak menang melawan Chelsea dari segi pertarungan di atas lapangan. Taktik yang dijalankan Juergen Klopp bahkan tidak mampu dibendung oleh Antonio Conte.

Sepanjang 90 menit sang tuan rumah seolah sedang didikte oleh tim tamu. Pergantian taktik dan pemain juga dilakukan secara telat. Chelsea memeragakan permainan yang justru terlihat aneh kemudian.

Bermain menunggu memang bukan hal yang haram, bahkan untuk tim dengan kualitas seperti Chelsea. Tapi hanya menunggu tanpa menyiapkan strategi khusus untuk serangan balik jelas layak dipertanyakan.

Hasil ini menjadi kekalahan pertama yang diderita oleh Chelsea musim ini. Sedangkan bagi Liverpool menjadi kemenangan ketiga dari lima laga yang dijalani. Kini kedua kesebelasan sama-sama mengemas 10 poin dari lima pertandingan.

Liverpool sendiri menjalani fase-fase awal kompetisi yang dibilang berat. The Reds harus menghadapi lawan yang tak bisa dianggap enteng, namun sejauh ini hasilnya positif. Mereka mengalahkan Arsenal (4-3), Leicester (4-1), dan terakhir Chelsea (2-1); 2 laga lain adalah kalah dari Burnley dan imbang melawan Tottenham Hotspur.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY