Kuasa hukum Jessica pertanyakan dokter sebagai saksi ahli di sidang

Kuasa hukum Jessica pertanyakan dokter sebagai saksi ahli di sidang

161
0
SHARE

Otto Hasibuan selaku ketua tim kuasa hukum terdakwa Jessica Kumala Wongso mempertanyakan status dokter yang membantu penyidik memeriksa kliennya. Pasalnya, dokter itu dihadirkan sebagai saksi ahli dalam sidang kematian Wayan Mirna Salihin.

Pertanyaan itu disampaikan Otto kepada saksi ahli hukum pidana dari Universitas Gadjah Mada, Edward Omar Sharif Hiariej. Otto menanyakan apakah seorang dokter yang membantu penyidik memeriksa terdakwa dapat membuka data-data hasil pemeriksaan yang bersifat rahasia.

“Jadi, waktu diminta itu dia (penyidik) tidak meminta seorang ahli, tetapi seorang dokter untuk memeriksa. Berarti terjadi hubungan antara pasien dengan dokter. Apakah menurut saudara, dokter itu wajib merahasiakan rahasia pasiennya?” tanya Otto kepada Edward dalam sidang, Kamis (25/8).

Edward yang mendapat pertanyaan itu sempat hening. Dia lantas menjelaskan bahwa dalam kualifikasi kesaksian yang diberikan saksi ahli terdapat profesi-profesi tertentu yang berhak menolak saat diminta untuk menjadi saksi di dalam persidangan.

Di antaranya seperti notaris, pengacara, pemuka agama, wartawan dan dokter. Penolakan tersebut dapat dilakukan jika hal tersebut bukan sesuatu yang bersifat pro yustisia (demi hukum). Penolakan tersebut menjadi saksi atau hak ingkar yang dilakukan untuk menjamin objektivitas peradilan.

Merasa tidak puas, Otto kembali melayangkan pertanyaan kepada Edward. “Di situ kan posisinya sebagai dokter, dia bukan sebagai ahli. Kemudian hasilnya diberikan kepada penyidik dan rahasia. Ternyata dokter tadi ini dipanggil di persidangan sebagai ahli dan akhirnya membuka semua data-data pasiennya itu di persidangan. Apakah secara etis dan hukum dibenarkan?” tanya Otto kembali.

Menjawab pertanyaan Otto, menjelaskan dua hal. Pertama, ketika pemeriksaan antara dokter dan pasien bukanlah untuk kepentingan pro yustisia maka berdasarkan etika kedokteran dokter wajib menyimpan rahasia penyakit pasiennya, sehingga publik dilarang untuk mengetahui hal tersebut.

“Tapi kalau itu diminta hal yang bersifat pro yustisia maka kewajiban untuk menyimpan rahasia penyakit pasiennya itu kemudian bisa diabaikan. Kalau kemudian dia dimintakan sebagai ahli atas suatu penetapan pengadilan dia harus membuka itu, maka itu tidak menjadi soal,” terang Edward.

Mendapat penjelasan dari Edward, Otto kembali bertanya bagaimana jika seorang dokter yang bersangkutan memberikan keterangan sebagai ahli bukan atas penetapan pengadilan, melainkan secara sukarela memberikan keterangan ahli.

“Kalau bukan karena perintah pengadilan tapi sukarela menjadi ahli dan membocorkan rahasia kliennya bagaimana?” tanya Otto kembali.

“Dia melanggar etika kedokteran tetapi tidak melanggar hukum,” jawab Edward.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY